Motherhood is one of the greatest adventures that a woman will experience but it doesn’t come without its challenges.You know you’re a mother when your child throws up and you run to catch it before it hits the rug. We grow, deliver and nourish our babies and then worry about them for the rest of our lives

Wednesday, October 7, 2015

HINDARI KATA TIDAK UNTUK BALITA


Kira-kira berapa kali Anda sudah berkata “Tidak” pada si kecil setiap harinya? Bisa jadi, si kecil paling malas jika mendengar Anda berkata “TIDAK” ketika tengah melakukan sesuatu yang seru. Tujuan Anda tentu ingin menjaga si kecil agar tetap bermain aman. Namun menurut Bruce Grellong, Ph.D, kepala psikologi anak dan keluarga di Jewish Board of Family and Children's ServicesNew York, beberapa anak memang tidak cukup memahami bila hanya dengan mendengar kata ‘TIDAK’. Beberapa ahli juga menuturkan, terlalu sering melontarkan larangan tanpa alasan dapat perburuk kemampuan berbahasa anak dibandingkan mereka yang mendapat respon positif dari orangtuanya. Kemampuan berpikir dan berbahasa si tiga tahun yang semakin terampil menjadikannya mudah diajak diskusi dan kompromi kok! Ini kiatnya, melarang secara halus namun tetap berjalan mulus:

1. “Boleh, asalkan….”
           “Bunda, aku boleh makan kue-kue manis ini?” Anda bisa menjawab, “Boleh, asalkan kamu sudah menghabiskan makan siangmu. Dan sebelum tidur jangan lupa menyikat gigi, ya?” Memberikan ‘lampu hijau’ atas permintaan si kecil boleh Anda lakukan, selama permintaannya masih berada pada batas wajar, menurut Anda. Cara ini akan menyenangkan hati si kecil dan Anda juga sekaligus dapat melindunginya dari kekhawatiran sakit gigi.

2. “Kita lihat yang lain dulu, yuk!”
          Umumnya, si kecil suka ‘lapar mata’ atau mudah tertarik terhadap sesuatu, dan juga mudah dialihkan. Oleh sebab itu, manfaatkan kebiasan si kecil mudah dialihkan ini. Segera alihkan perhatiannya jika ia mulai merengek minta sesuatu yang tidak perlu atau membahayakan. Misalnya, ajak anak melihat pertunjukan yang biasa diadakan di hall mol, jika ia merengek minta dibelikan mainan yang sudah ia miliki di rumah.

3. Berikan alasan
          Si kecil yang kritis jelas tidak mempan bila Anda hanya menggunakan kata “TIDAK BOLEH”. Ia butuh penjelasan kenapa keinginannya Anda larang. Usahakan untuk memberikan alasan setelah Anda melarang si kecil. Berikan alasan yang mudah dimengerti anak, dan pastikan alasan Anda selalu konsisten. Misalnya pada saat si kecil merebut gadget milik pamannya karena ingin bermain game. Berikan alasan bahwa game yang ada di gadget paman adalah game yang diperuntukkan untuk orang dewasa. Lalu berikan game yang boleh ia mainkan.

4. Gunakan bahasa isyarat
          Ada kalanya Anda tidak dapat menegur langsung si kecil, bahkan bersuara karena sedang berada di tempat ibadah dan rumah duka. Tetapi, Anda dapat mengkomunikasikan larangan lewat isyarat. “Sssst….(Sambil meletakkan jari telunjuk di bibir Anda). Kita bicaranya pelan-pelan saja, ya, nanti mengganggu tante dan om di sebelah yang sedang berdoa.” Usai perayaan selesai, jelaskan alasan dibalik ‘instruksi’ Anda tadi. Tujuannya agar kelak jika hal tersebut terjadi lagi, si kecil paham bahwa jari telunjuk di letakkan di bibir pertanda tidak boleh berisik.

5. Buat kesepakatan
          Anda baru saja meninggalkan lantai ruang keluarga dalam keadaan bersih dan masih basah. Tiba-tiba, si kecil membawa peralatan piknik dan  menjadikan ruang keluarga sebagai taman. Sebelum Anda mengeluarkan kata “TIDAK BOLEH”, buat kesepakatan dengan cara memberikan dua pilihan. “Kamu boleh bermain di ruang keluarga, tetapi hanya bisa duduk manis di sofa karena lantai masih basah. Atau kamu boleh bermain piknik-piknikan di kamar dan kamu bisa bebas bermain bersama boneka-bonekamu di lantai. Kamu pilih yang mana?” Memberikan pilihan pada anak akan membuatnya memiliki otoritas, dan ia lebih senang jika mendapatkan otoritasnya. Hal ini juga sekaligus mengajarkan anak untuk konsisten dan bertanggung jawab terhadap pilihannya.

6. Sentuh hatinya
          Trik ini merupakan trik jitu karena Anda membuat anak berpikir dan bermain dengan perasaannya. Misalnya, si kecil baru saja membuang makanan ke rumput taman. Anda dapat mengatakan, “Kalau kamu membuang makanan ke rumput, kasian petugas kebersihan di taman karena harus bekerja membersihkan makananmu. Dan Bunda juga harus membeli makanan jika nanti kamu lapar. Padahal sudah tidak ada uang lagi di dompet Bunda. Kamu tidak boleh melakukan ini lagi, ya.” Hal ini dapat mengasah sisi emosional dan kepedulian si kecil terhadap perasaan orang lain sejak dini.

No comments:

Post a Comment